Bab 23 Apa Makna dan Dasar Lontar di Balik Upacara Tumpek Kandang?
Bab 23 Apa Makna dan Dasar Lontar di Balik Upacara Tumpek Kandang?
Di dalam tata kehidupan masyarakat Bali yang penuh dengan penghormatan kepada seluruh ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, terdapat satu hari yang begitu indah dan penuh kasih, yaitu hari Tumpek Kandang. Pada hari ini, seluruh umat Hindu di Bali berhati lembut kepada hewan-hewan ternak yang telah membantu kehidupan mereka, memohon keselamatan dan perlindungan bagi mereka, serta menyadari betul bahwa hewan pun adalah makhluk ciptaan Tuhan yang patut disayangi dan dihormati. Pelaksanaan Tumpek Kandang ini bukanlah sekadar kebiasaan turun-temurun yang dilakukan tanpa dasar, melainkan berlandaskan pada petuah-petuah suci yang tertulis di dalam lembaran-lembaran daun lontar yang ditulis oleh para leluhur kita sejak zaman dahulu.
Salah satu sumber ajaran yang menjadi landasan utama adalah Lontar Dewa Tattwa. Di dalam lontar ini dijelaskan dengan penuh kebijaksanaan bahwa hewan ternak itu juga memiliki jiwa, bernyawa, dan merupakan ciptaan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Oleh karena itu, manusia wajib menjaganya, menghormatinya, dan memberikan perlindungan yang layak kepadanya. Tidak sepantasnya hewan diperlakukan sewenang-wenang, disakiti, atau dibebani di luar kemampuannya. Khusus pada hari Tumpek Kandang, disebutkan pula bahwa setiap pemilik hewan ternak hendaknya memohon keselamatan dan berkah kepada Tuhan, agar ternak yang dipeliharanya senantiasa sehat, tumbuh berkembang biak dengan baik, dan terhindar dari segala wabah penyakit yang dapat merugikan maupun membahayakan.
Kemudian, mengenai waktu pelaksanaannya, semuanya telah dicatat dengan sangat rinci di dalam Lontar Kalpasara. Di dalam lontar ini ditetapkan secara tegas bahwa Tumpek Kandang jatuh pada hari yang sangat baik dan penuh berkah, yaitu hari Saniscara Kliwon Wuku Uye. Selain penetapan hari, di dalamnya juga dijelaskan tata cara pelaksanaan pemujaan, jenis sarana persembahan yang sepatutnya dihaturkan, serta doa-doa yang dipanjatkan demi keselamatan hewan ternak sekaligus keselamatan seluruh penghuni rumah. Dengan demikian, setiap langkah yang dilakukan pada hari itu bukanlah perbuatan yang sia-sia, melainkan sudah ditetapkan waktunya dan dituntunkan caranya oleh para leluhur yang penuh ilmu pengetahuan suci.
Selanjutnya, makna yang lebih luas dan mendalam tertuang di dalam Lontar Upakara Desa. Di dalam lontar ini, Tumpek Kandang ditempatkan sebagai bagian dari upacara Yadnya yang ditujukan bagi makhluk hidup lainnya. Artinya, merawat dan mengupacarai hewan ternak adalah salah satu cara menjaga keseimbangan alam yang telah ditetapkan Tuhan, sekaligus memenuhi kewajiban manusia selaku pengelola atas segala ciptaan yang dipercayakan kepadanya. Disebutkan pula dengan sangat jelas bahwa melindungi hewan ternak, merawatnya dengan penuh kasih, dan memohon keselamatan baginya adalah salah satu bentuk bakti yang tulus kepada Sang Pencipta. Sebagaimana kita menyayangi sesama manusia, demikian pula hendaknya kita menyayangi makhluk hidup lain yang hidup bersama kita di dunia ini.
Dari ketiga lontar tersebut, dapatlah kita tarik satu benang merah yang begitu indah. Tumpek Kandang adalah salah satu dari enam Tumpek yang pelaksanaannya berlandaskan pada petuah-petuah suci yang tertulis di dalam lontar-lontar penanggalan maupun tata upacara leluhur. Inti dari seluruh ajaran yang terkandung di dalamnya dapat dirangkum dalam satu kalimat penuh kasih: hewan ternak adalah anugerah Tuhan yang wajib disayangi, dipelihara dengan baik, dan tidak boleh disakiti. Karena dengan merawat hewan dengan penuh kasih sayang, menjaga keselamatan dan kesehatannya, kita sebenarnya sedang menjaga pula kesejahteraan dan keselamatan keluarga kita sendiri. Semoga kita senantiasa diberi hati yang lembut untuk menyayangi seluruh ciptaan-Nya, sebagai wujud bakti dan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah memberikan segala sesuatu untuk kelangsungan hidup kita.
Komentar
Posting Komentar