Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026

Bab 28 Fungsi Dan Jenis Merajan.

Bab 28 Fungsi Dan Jenis Merajan.   Merajan adalah sebutan untuk pura keluarga atau tempat suci yang berdiri di pekarangan setiap rumah orang Bali, menjadi pusat kehidupan rohani dan jembatan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, para Dewata, serta leluhur. Keberadaannya bukan sekadar bangunan fisik semata, melainkan sarana suci yang aturan, makna, dan fungsinya telah tertulis secara lengkap dan rinci dalam warisan ilmu leluhur yang terabadikan di dalam naskah kuno, khususnya golongan lontar Tattwa dan Kosala Kosali. Di dalam kumpulan naskah inilah segala hal mengenai Merajan dibahas mendalam, mulai dari tata cara pembangunan, makna sesungguhnya, hingga pembagian jenisnya sesuai asal usul dan fungsinya masing-masing, menjadi pedoman hidup yang tak terputus dari generasi ke generasi.   Salah satu sumber ilmu utama dan menjadi rujukan wajib dalam segala hal yang berkaitan dengan tata ruang, arsitektur, dan tata letak bangunan di Bali adalah Lontar Asta Kosala Kosali. Nask...

Bab 29 Mitos Pohon Pepaya dalam Tata Tanam Tradisi Bali.

Bab 29 Mitos Pohon Pepaya dalam Tata Tanam Tradisi Bali.   Di tengah kekayaan kearifan lokal dan pedoman adat yang tertulis dalam berbagai naskah kuno atau lontar di Bali, aturan mengenai penataan lingkungan dan jenis tanaman yang boleh atau sebaiknya tidak ditanam di pekarangan rumah tercatat dengan sangat rinci. Salah satu tanaman yang menjadi pembahasan menarik dan memiliki catatan khusus adalah pohon pepaya. Meskipun buahnya sangat bergizi, bermanfaat bagi kesehatan, dan sering dikonsumsi sehari-hari, namun dalam aturan adat Bali, pepaya memiliki posisi yang unik. Larangan atau saran untuk tidak menanam pohon pepaya di pekarangan rumah sebenarnya telah tertulis jelas di dalam lontar-lontar kuno, meskipun penyebutannya tidak sepopuler atau sering dibahas seperti halnya aturan mengenai pohon kelapa atau tanaman keramat lainnya. Ada beberapa naskah utama yang menjadi rujukan para tetua adat dan masyarakat dalam hal ini, masing-masing menjabarkan alasan dari berbagai sisi, baik dar...

Bab 30 Padma Capah dan Sang Hyang Indra Balaka.

Bab 30 Padma Capah dan Sang Hyang Indra Balaka. Dalam tradisi dan tata cara pembangunan di masyarakat Hindu Bali, segala sesuatu tidak pernah lepas dari pedoman tertulis yang diwariskan secara turun-temurun melalui naskah-naskah kuno atau yang sering kita kenal dengan sebutan lontar. Salah satu bahasan penting yang banyak dibahas dalam naskah-naskah tersebut adalah mengenai penataan pekarangan rumah, penentuan arah mata angin, serta cara mengatasi atau menetralisir pengaruh energi buruk yang mungkin ada di suatu tempat. Di antara sekian banyak istilah yang muncul dalam pembahasan ini, nama Padma Capah dan Sang Hyang Indra Balaka adalah dua hal yang saling berkaitan erat dan memiliki peran sangat vital dalam upacara penyucian atau penetralan. Berbagai sumber tertulis, mulai dari lontar kuno hingga kitab rujukan resmi, telah mencatat secara rinci mengenai keberadaan, fungsi, bentuk, dan makna dari kedua hal ini, yang menjadi panduan utama bagi para arsitek tradisional, maupun masyarakat ...