Bab 27 Makna Mendalam Tentang Sanggah Surya.

Bab 27 Makna Mendalam Tentang Sanggah Surya.

Setiap kali ada piodalan besar di pura atau desa adat, pasti kita melihat Sanggah Surya berdiri kokoh di sisi timur laut, lengkap dengan perlengkapan khas: pohon pisang keladi yang masih utuh dengan batang, daun, buah, dan jantungnya, disertai pohon peji serta pohon nuduh. Ada aturan ketat: jika pisang keladi tidak ada, hanya boleh diganti pisang kayu, dan di banyak desa adat, wajib ada buah beserta jantungnya, tidak boleh kurang sedikit pun. Banyak yang mengira ini sekadar hiasan atau tradisi turun-temurun saja, padahal setiap bagian memiliki makna rohani yang sangat dalam, tertulis jelas dalam lontar-lontar kuno seperti Lontar Tatwa Upakara, Lontar Manik Jawa, dan Lontar Kamadhatu, yang menjadi pedoman pelaksanaan upacara di Bali. Mari kita urai satu per satu maknanya, agar pemahaman kita bukan sekadar ikut-ikutan, melainkan berdasar pengetahuan suci.
 
Pertama, kita harus pahami fungsi utama Sanggah Surya sendiri. Menurut Lontar Kamadhatu, Sanggah Surya adalah stana atau tempat bersemayamnya manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Siwa Raditya, Dewa Matahari, yang berperan sebagai saksi utama segala upacara yadnya. Tanpa Sanggah Surya, suatu upacara dianggap belum sah, belum lengkap, dan belum disahkan oleh alam semesta, karena matahari adalah sumber cahaya, kehidupan, dan kebenaran yang menyinari segala sesuatu, tidak ada yang tersembunyi darinya. Semua tanaman yang dipasang di sana bukan sekadar pelengkap, melainkan simbol-simbol suci yang mewakili alam semesta dan hubungan kita dengan Tuhan.
 
Yang paling utama adalah Pohon Pisang Keladi (Biu Keladi / Kadali), yang wajib lengkap dari akar, batang, daun, buah, hingga jantungnya. Dalam Lontar Tatwa Upakara disebutkan: "Kadali puspa, purusatma, wiji agung, dadi mula kabeh dharma" — artinya pisang keladi adalah simbol Purusatma, jiwa agung atau benih asal mula segala kehidupan. Mengapa harus lengkap buah dan jantungnya? Karena buah pisang melambangkan hasil perbuatan atau karma, sedangkan jantung pisang (biu lalung) adalah simbol Centana, benih kehidupan yang terus berlanjut, keturunan, dan kelestarian dharma. Jika salah satu hilang, berarti kita mempersembahkan sesuatu yang tidak utuh, seolah-olah kehidupan kita terputus, tidak lengkap, atau kita tidak berniat melestarikan ajaran dan keturunan. Di desa adat yang mewajibkan lengkap buah dan jantung, ini maknanya sangat tegas: kita menghaturkan segala apa yang kita miliki, dari awal sampai akhir, dari asal mula hingga hasilnya, tidak ada yang disembunyikan, tidak ada yang dipotong.
 
Mengapa pisang keladi, bukan jenis lain? Karena pisang keladi tumbuh tegak lurus, batangnya kokoh, tidak bercabang, dan seluruh bagiannya bisa dimanfaatkan manusia — daun untuk alas, buah untuk dimakan, batang untuk obat, bahkan getahnya berguna. Sifat ini melambangkan manusia yang hidup lurus, jujur, bermanfaat bagi sesama, dan memberikan hasil yang baik. Jika pisang keladi tidak ada, barulah boleh pakai Pisang Kayu, karena jenis ini juga memiliki sifat kokoh dan tahan lama, namun tetap dianggap pengganti saja, karena pisang keladi adalah yang paling utama sesuai aturan lontar.
 
Selanjutnya adalah Pohon Peji (Peji Uduh / Buah Uduh). Dalam Lontar Manik Jawa dijelaskan: "Peji uduh, dwi warga, dewata lan dewini, dadi saksi ngaturang bhakti". Pohon ini selalu berpasangan, buahnya tumbuh berdua-berdua, dan melambangkan pasangan suami istri, Dewa dan Dewi, Purusa dan Prakerti. Artinya, dalam kehidupan dan dalam ibadah, semuanya berjalan berpasangan, saling melengkapi, laki-laki dan perempuan sama pentingnya, sama-sama memiliki kewajiban berbakti. Kehadiran pohon peji di Sanggah Surya bermakna bahwa seluruh alam semesta, dari yang tertinggi hingga manusia, hadir bersama-sama menyaksikan dan mendukung persembahan kita. Tanpa peji, seolah-olah ada yang kurang, ada yang tidak lengkap dalam tatanan alam dan kehidupan.
 
Dan yang terakhir, Pohon Nuduh. Mungkin yang ini paling jarang dijelaskan, padahal maknanya sangat indah. Dalam Lontar Kamadhatu disebutkan bahwa pohon nuduh melambangkan penunjuk jalan, petunjuk arah, dan ilmu pengetahuan. Batangnya lurus, daunnya mengarah ke atas, seolah menunjuk ke langit, ke arah Tuhan. Ini bermakna bahwa segala upacara, segala persembahan, dan segala kehidupan kita harus selalu diarahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tidak boleh tersesat, tidak boleh salah arah. Pohon nuduh mengingatkan kita: ibadah bukan sekadar bentuk, tapi harus memiliki tujuan yang benar, yaitu mendekatkan diri pada Tuhan dan menjaga kebenaran.
 
Ketiga tanaman ini disatukan di Sanggah Surya, membentuk satu kesatuan makna yang utuh: Kita menghaturkan diri kita sendiri (Pisang Keladi), kita hidup berpasangan dan saling melengkapi (Peji), dan kita selalu menunjuk arah hidup kita kepada Tuhan (Nuduh), semuanya disaksikan oleh Siwa Raditya, Dewa Matahari.
 
Mengapa di desa adat sangat ketat aturannya, harus lengkap buah dan jantungnya? Karena dalam pandangan agama Hindu, persembahan yang paling berharga bukanlah yang mahal atau mewah, melainkan yang utuh, lengkap, dan tulus. Jika kita memotong buah atau membuang jantungnya, itu ibarat kita memberi separuh hati, separuh usaha, atau separuh hidup kita. Padahal Tuhan menuntut kesungguhan dan keutuhan. Seperti tertulis dalam Lontar Weda Tatwa: "Yadnya punika kudu sampurna, tan kena kurang, tan kena luwih, apadene manah kudu suci" — Yadnya itu harus sempurna, tidak boleh kurang, tidak boleh lebih, dan yang paling penting hati harus suci.
 
Jadi, jawaban atas kebingungan Anda: semua tanaman itu bukan sekadar hiasan, tapi simbol hidup yang mengajarkan kita tentang kehidupan, kewajiban, dan arah tujuan. Pisang keladi lengkap dengan buah dan jantungnya adalah simbol kehidupan yang utuh dan berkelanjutan; peji adalah simbol kebersamaan dan keseimbangan; nuduh adalah simbol arah hidup yang selalu menuju Tuhan. Semua ini tertulis jelas dalam lontar-lontar kuno, yang menjadi warisan leluhur agar kita tidak hanya tahu cara melaksanakan, tapi juga paham maknanya yang sangat dalam dan suci. Semoga penjelasan ini menjadi pencerahan, dan semakin mempertegas bhakti kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Rahayu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bab 29 Mitos Pohon Pepaya dalam Tata Tanam Tradisi Bali.