Bab 28 Fungsi Dan Jenis Merajan.

Bab 28 Fungsi Dan Jenis Merajan.
 
Merajan adalah sebutan untuk pura keluarga atau tempat suci yang berdiri di pekarangan setiap rumah orang Bali, menjadi pusat kehidupan rohani dan jembatan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, para Dewata, serta leluhur. Keberadaannya bukan sekadar bangunan fisik semata, melainkan sarana suci yang aturan, makna, dan fungsinya telah tertulis secara lengkap dan rinci dalam warisan ilmu leluhur yang terabadikan di dalam naskah kuno, khususnya golongan lontar Tattwa dan Kosala Kosali. Di dalam kumpulan naskah inilah segala hal mengenai Merajan dibahas mendalam, mulai dari tata cara pembangunan, makna sesungguhnya, hingga pembagian jenisnya sesuai asal usul dan fungsinya masing-masing, menjadi pedoman hidup yang tak terputus dari generasi ke generasi.
 
Salah satu sumber ilmu utama dan menjadi rujukan wajib dalam segala hal yang berkaitan dengan tata ruang, arsitektur, dan tata letak bangunan di Bali adalah Lontar Asta Kosala Kosali. Naskah ini menjadi panduan pokok dalam menata lingkungan hunian agar selaras dengan aturan kosmis, dan di dalamnya terdapat bab khusus yang secara mendalam membahas tentang "Merajan". Menurut isi lontar ini, fungsi utama Merajan adalah sebagai stana atau tempat bersemayam yang disucikan untuk memuja dan menghormati Sang Hyang Pitara atau para leluhur, Bhatara Kawitan yang merupakan asal usul suku atau garis keturunan keluarga, serta para Dewata pelindung. Lebih dari sekadar tempat ibadah, Merajan juga memegang peranan sangat penting sebagai penyeimbang energi di dalam pekarangan rumah, disesuaikan dengan konsep tata ruang Sanga Mandala yang membagi wilayah rumah menjadi sembilan bagian sesuai arah mata angin dan kekuatan alam semesta. Di samping itu, lontar ini juga mengklasifikasikan jenis-jenis Merajan berdasarkan kasta atau gotra keluarga serta jumlah stana atau pelinggih yang ada di dalam kompleks suci tersebut. Disebutkan beberapa jenis utama, antara lain Merajan atau yang sering disebut Sanggah Kemulan, Sanggah Pengaruman, Sanggah Taksu, hingga Sanggah Penyawi, yang masing-masing memiliki bentuk, ukuran, dan penataan pelinggih yang disesuaikan dengan hak dan kedudukan keturunan pemiliknya.
 
Selain Asta Kosala Kosali, ada Lontar Sundarigama yang membahas secara lengkap mengenai sisi ritual, tata cara pemujaan, serta fungsi Merajan dalam pelaksanaan upacara keagamaan sehari-hari. Jika lontar sebelumnya lebih banyak membahas fisik dan tata letak, maka lontar ini menguraikan lebih dalam mengenai fungsi Merajan sebagai wadah pelaksanaan kewajiban bhakti. Dijelaskan bahwa fungsi utama Merajan adalah sebagai tempat dilaksanakannya persembahan suci atau banten piodalan, serta tempat untuk ngaturang bhakti atau menyampaikan bakti dan doa tulus kepada para leluhur pada hari-hari tertentu yang suci, seperti setiap bulan purnama atau Purnama, bulan mati atau Tilem, dan tentunya pada saat hari raya besar umat Hindu. Dalam hal pembagian jenis, lontar ini mengelompokkan Merajan berdasarkan soroh atau garis keturunan keluarga secara lebih rinci dan khusus. Tercatat adanya Merajan Pasek, Merajan bagi keluarga Brahmana, Merajan untuk golongan Satria, dan Merajan untuk golongan Sudra. Setiap jenis ini memiliki perbedaan yang jelas dalam hal penataan bangunan, jumlah pelinggih atau tempat pemujaan yang harus ada, serta aturan-aturan khusus dalam melakukan persembahan, semuanya disesuaikan dengan hak dan kewajiban masing-masing soroh tersebut agar pelaksanaannya tepat dan berdaya guna.
 
Pembahasan kemudian meluas ke aspek yang lebih halus dan mendalam melalui Lontar Dewa Tattwa, yang lebih banyak menjelaskan sisi niskala atau makna rohani di balik keberadaan Merajan. Menurut pandangan lontar ini, Merajan bukan sekadar bangunan, melainkan berfungsi sebagai penghubung utama antara Bhuana Alit atau alam manusia (diri sendiri) dengan Bhuana Agung atau alam semesta dan kekuatan Tuhan. Merajan menjadi tempat untuk melaksanakan pengabdian suci atau “ngayah” kepada leluhur dan Dewata, tempat di mana doa manusia di bumi diharapkan dapat naik dan didengar oleh alam di atas. Terkait pembagian jenisnya, di dalam lontar ini disebutkan adanya Merajan Kemulan yang dikhususkan untuk pemujaan Bhatara Kawitan atau asal usul keluarga, serta Merajan Takir yang berfungsi sebagai tempat pemujaan kepada Dewa-Dewa Nawa Sanga yang menguasai delapan penjuru mata angin dan pusat alam semesta, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan keselamatan penghuni rumah.
 
Tak kalah penting adalah Lontar Wariga, naskah yang memang secara umum dikenal sebagai panduan menentukan hari baik dan perhitungan waktu, namun juga memuat pembahasan penting mengenai Merajan. Di dalamnya disebutkan fungsi Merajan sangat erat kaitannya dengan penentuan hari baik untuk pelaksanaan upacara piodalan, di mana waktu pelaksanaan harus disesuaikan dengan hitungan kalender Bali agar hasil pemujaan menjadi sempurna dan berkat. Selain itu, lontar ini juga mengelompokkan jenis Merajan berdasarkan arah hadap bangunannya, yang sangat menentukan keselarasan energi. Contohnya, Merajan yang menghadap ke arah Kaja-Kangin adalah arah yang utama dan umumnya diperuntukkan bagi keluarga golongan Brahmana, sedangkan arah hadap ke Kaja lebih banyak digunakan oleh keluarga golongan Satria, dan seterusnya disesuaikan dengan aturan yang berlaku bagi masing-masing garis keturunan.
 
Secara ringkas namun sangat padat makna, seluruh penjelasan yang terkumpul dari berbagai lontar tersebut merangkum empat fungsi utama Merajan yang menjadi inti keberadaannya di setiap pekarangan rumah. Pertama, adalah sebagai tempat pemujaan kepada Pitara atau para leluhur, tanda hormat dan ingat asal usul. Kedua, sebagai sarana pemujaan kepada Bhatara Kawitan dan Dewata sesuai soroh atau garis keturunan yang dianut. Ketiga, berfungsi sebagai penyeimbang energi alam di dalam lingkungan rumah, menjaga agar suasana hunian tetap damai, aman, dan sejahtera. Dan keempat, Merajan menjadi tempat utama untuk menyampaikan persembahan atau maturan serta berdoa terlebih dahulu sebelum memulai segala aktivitas penting, seperti bekerja, berusaha, atau memulai usaha baru, memohon arahan, keselamatan, dan keberkahan agar segala yang dilakukan senantiasa mendapatkan perlindungan dan kelancaran. Dengan demikian, Merajan bukan hanya bangunan warisan, melainkan nyawa dari kehidupan beragama masyarakat Bali yang dijaga kelestariannya melalui ilmu yang tertulis rapi di dalam lontar-lontar suci tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bab 29 Mitos Pohon Pepaya dalam Tata Tanam Tradisi Bali.