Bab 26 Lontar Yang Membahas Hari Raya Galungan.

Bab 26 Lontar Yang Membahas Hari Raya Galungan.
 
Hari Raya Galungan merupakan salah satu perayaan paling sakral dan dinanti oleh seluruh umat Hindu di Bali, yang dilaksanakan setiap 210 hari sekali dalam penanggalan pawukon. Di balik kemeriahan dan makna kemenangan dharma atas adharma yang diusungnya, perayaan ini tidak lahir begitu saja, melainkan memiliki landasan ajaran, sejarah, dan aturan yang tertulis rapi dalam berbagai naskah kuno warisan leluhur, yang dikenal dengan sebutan lontar. Naskah-naskah ini menjadi pedoman utama yang menjaga keaslian dan kesucian pelaksanaan Galungan dari generasi ke generasi hingga masa kini.
 
Salah satu sumber paling utama yang menjadi rujukan adalah Lontar Purana Bali Dwipa. Naskah ini memegang peranan penting karena secara rinci mencatat asal-usul mula perayaan Galungan, termasuk kapan pertama kali hari raya ini dirayakan, yaitu pada tahun 804 Saka. Selain mencatat sejarah permulaannya, lontar ini juga menguraikan makna hakiki yang terkandung di dalamnya beserta aturan-aturan dasar yang harus dipatuhi dalam setiap pelaksanaannya, sehingga umat memahami bahwa perayaan ini bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan memiliki landasan yang jelas dan kuat.
 
Melengkapi penjelasan mengenai waktu pelaksanaannya, terdapat Lontar Sundarigama yang memberikan ketetapan yang pasti mengenai kapan Galungan harus diadakan, yaitu jatuh pada hari Budha Kliwon Wuku Dungulan. Lebih dari sekadar penetapan waktu, lontar ini juga menjelaskan secara mendalam tata cara pelaksanaan yang benar, serta menyingkap makna batin yang tersembunyi di balik setiap gerak dan persembahan, mengajarkan umat agar tidak hanya sibuk dengan persiapan lahiriah semata, tetapi juga menyucikan hati dan pikiran dalam merayakan kemenangan kebaikan.
 
Untuk memahami posisi Galungan dalam kaitannya dengan hubungan manusia, leluhur, dan Tuhan, umat dapat merujuk pada Lontar Usana Bali. Naskah ini menguraikan perjalanan sejarah perayaan tersebut secara lebih luas, menekankan eratnya kaitan Galungan dengan penghormatan dan pemujaan kepada para leluhur yang telah mendahului, serta mempertegas nilai-nilai dharma yang menjadi inti dari seluruh rangkaian upacara, yaitu menguatkan kebaikan dan menjauhi segala perbuatan yang merusak tatanan kehidupan.
 
Bagi umat yang ingin mengetahui secara rinci bagaimana melaksanakan seluruh rangkaian perayaan dengan sempurna, Lontar Bhagawan Kasyapa menjadi sumber yang sangat lengkap. Di dalamnya termuat tata upacara secara utuh, mulai dari persiapan awal, urutan rangkaian hari yang harus dilalui, hingga penjelasan makna simbolis dari setiap perlengkapan yang digunakan, termasuk penjor yang menjadi ciri khas Galungan. Lontar ini memastikan bahwa setiap unsur yang ada dalam perayaan memiliki arti dan tujuan yang mulia, bukan sekadar hiasan atau kebiasaan belaka.
 
Tidak kalah menarik adalah kisah yang tertuang dalam Lontar Sri Jayakasunu, yang menceritakan perjalanan panjang perayaan ini. Di dalamnya diceritakan bahwa pada suatu masa, perayaan Galungan sempat terhenti pelaksanaannya, namun kemudian dipulihkan kembali dan dihidupkan kembali oleh para pemuka agama dan masyarakat. Kisah ini menjadi pengingat berharga bagi umat akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan suci ini agar tetap terjaga keberadaannya dan terus dapat dirayakan oleh anak cucu di masa mendatang. Keseluruhan isi lontar-lontar ini menjadi bukti bahwa Galungan memiliki fondasi yang kokoh, berakar pada kearifan lokal yang diwariskan secara tertulis, sehingga maknanya tetap terjaga dan relevan di tengah perjalanan zaman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bab 28 Fungsi Dan Jenis Merajan.

Bab 27 Makna Mendalam Tentang Sanggah Surya.

Bab 29 Mitos Pohon Pepaya dalam Tata Tanam Tradisi Bali.